Taman Nasional Gunung Tambora, Kabupaten Dompu dan Bima

taman-nasional-gunung-tambora-sumbawa-kaldera

Tentang Taman Nasional Gunung Tambora, Sumbawa

Pemerintah Provinsi NTB telah menetapkan kawasan Tambora sebagai salah satu destinasi pariwisata unggulan Pulau Sumbawa – Kabupaten Dompu dan Kabupaten Bima. Berdasarkan Peraturan Daerah No. 7 Tahun 2013 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah Tahun 2013 – Tahun 2028, Kawasan Tambora menjadi satu kesatuan destinasi dengan Teluk Saleh dan Pulau Moyo dikenal dengan sebutan “SAMOTA”. Kawasan ini menjadi salah satu dari sebelas kawasan strategis pariwisata daerah, dan sesuai Perda tersebut Kawasan Tambora akan dikembangkan sebagai objek wisata pengunungan yang menjadi satu kesatuan pengembangan dengan wisata bahari di Teluk Saleh dan Pulau Moyo.

Mengingat status kawasan konservasi CA, SM dan TB tidak dimungkinkan untuk mendukung pengembangan wisata alam, maka Pemprov NTB dua tahun yang lalu tepatnya pada tanggal 11 April 2013 kepada Menteri Kehutanan mengusulkan perubahan fungsi kawasan cagar alam, suaka margasatwa dan taman buru Gunung Tambora seluas 71.645,74 Ha menjadi Taman Nasional Gunung Tambora (TNGT).

Kawasan Taman Nasional Gunung Tambora kemudian ditunjuk berdasarkan SK Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor SK.111/Menlhk-II/2015 tanggal 7 April 2015 seluas 71.645,74 hektar. Letak TN Gunung Tambora secara administratif pemerintahan termasuk dalam wilayah Kecamatan Kempo dan Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu dan Kecamatan Tambora serta Kecamatan Sanggar Kabupaten Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Potensi Flora dan Fauna

Tipe vegetasi Taman Nasional Gunung Tambora bervariasi, pada ketinggian 200 m – 700 m di atas permukaan laut tipe vegetasinya adalah hutan musim selalu hijau (dry evergreen) yang didominasi oleh tumbuhan Walikukun walikukun (Schoutenia ovata), Kelanggo/Rajumas (Duabanga mollucana), Rida/Pulai (Alstonia scholaris), Monggo/Jambu Hutan (Eugenia polyantha), Binuang (Tetrameles nudiflora), Bayur (Pterospermum javanicum), Wangkal (Albizia procera), Linggua (Pterocarpus indicus) dan lain sebagainya.

Pada ketinggian di atas 700 m di atas permukaan laut tipe vegetasinya adalah hutan sekunder yang didominasi jenis-jenis semak dan perdu. Pada ketinggian di atas 900 m di atas permukaan laut tipe vegetasinya adalah savana dengan tegakan Cemara Gunung (Casuarina junghuniana) dan Edelweis (Anaphalis javanica), sedangkan pada ketinggian di atas 1.200 m di atas permukaan laut merupakan vegetasi savana yang ditumbuhi oleh jenis rumput alang-alang (Imperata cylindrica), rumput gelagah (Cyperus rotundus), Lantana (Lantana camara), Kirinyuh (Euphatorium sp) dan lain sebagainya.

Dari ketiga macam vegetasi yang ada di TN Gunung Tambora dapat dijumpai bermacam-macam fauna yang didominasi oleh jenis-jenis burung baik yang dilindungi maupun yang tidak dilindungi, antara lain Kakatua Kecil Jambul Kuning (Cacatua sulphurea), Nuri Kepala Merah (Geofroyyus geofroyyi), Kirik-kirik Australia (Merops ornatus), Ayam Hutan Hijau (Gallus gallus), Srigunting (Dicrurus densus), Bentet Kelabu (Lanius scach), Punglor Kepala Hitam (Zoothera doherty), Isap Madu Australia (Lichmera indistincta), Isap Madu Topi Sisik (Lichmera lombokia), Alap-alap layang (Falco cinerhoides), Isap Madu Topi Sisik (Lichmera lombokia), Elang bondol (Heliastur indus) dan lain-lain. Adapun jenis-jenis mamalia yang dapat ditemui antara lain Rusa Timor (Cervus timorensis), Kera abu-abu (Macaca fascicularis), Babi Hutan (Sus scrova), sedangkan jenis-jenis reptilia yang dapat ditemui antara lain Biawak (Varanus salvator), Ular piton (Phyton sp).   Selain itu juga terdapat potensi lebah madu yang dimanfaatkan masyarakat sekitar untuk diambil madunya.

Potensi Wisata

Potensi wisata yang dapat dikembangkan antara lain : wisata alam yaitu berupa wisata pendakian ke kaldera dan jelajah hutan (jungle tracking) kegiatan ini dapat dilaksanakan melalui 3 pintu pendakian yaitu Piong/Sanggar, Kawindato’i, Pancasila dan Doro Ncanga.

Untuk menuju puncak Tambora melalui Jalur Pendakian Piong, Kawindato’i dan Pancasila memerlukan waktu tempuh 3 hari 2 malam dengan berjalan kaki. Sedangkan Jalur Pendakian Doroncanga bisa ditempuh dengan kendaraan off road sampai pos 3, kemudian dari pos 3 menuju Puncak Tambora hanya memerlukan waktu 2 jam dengan berjalan kaki.

Selain itu pada kawasan Gunung Tambora terdapat beberapa sungai yang airnya mengalir sepanjang tahun sehingga sangat potensial untuk pengembangan wisata tirta seperti jelajah sungai, canoing, foto hunting serta menjadi spot untuk kegiatan bird wacthing. Kawasan konservasi Gunung Tambora juga dapat dikembangkan wisata minat khusus seperti paralayang, panjat tebing, offroad, berkuda, wisata ilmiah dan lain-lain.

Kawah Gunung Tambora merupakan daya tarik tersendiri bagi kawasan ini, letusan gunung Tambora 2 abad yang lalu pada medio April 1815 menjadi sejarah yang sangat penting, karena konon abu vulkanik letusan Gunung Tambora sampai di benua Eropa.

Aksesibilitas

Untuk menuju Taman Nasional Gunung Tambora dari Kota Mataram membutuhkan waktu tempuh ± 13 jam perjalanan darat. Rute perjalanan darat yang ditempuh adalah sebagai berikut:

  • Mataram – Dompu ± 11 jam (termasuk penyeberangan dengan kapal ferry).
  • Dompu – Kore ± 2 jam, untuk masuk kawasan melalui Pos Kore.
  • Kore – Kawinda To’i ± 2 jam, untuk masuk kawasan melalui Pos Kawinda To’i.
  • Dompu – Doropeti ± 2 jam, untuk masuk kawasan melalui Pos Doropeti.

Gallery Taman Nasional Gunung Tambora

Artikel Terkait

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply