Pelatihan Pengembangan Paket Ekowisata di TWA Gunung Tunak

Lombok , 2-3 November 2017

Suasana tegang para peserta pelatihan pengembangan paket ekowisata di TWA Gunung Tunak karena tantangan yang mereka dapatkan. Metode pelatihan yang tidak biasa membuat mereka harus terpacu untuk berkembang dan belajar terus. Tantangan seperti apa yang mereka dapatkan? Hari pertama, mereka ditargetkan untuk dapat mewawancarai turis sebanyak 5 orang dengan dibekali kuesioner, dan hari kedua peserta ditantang melakukan demonstrasi paket wisata yang akan ditawarkan, semuanya disampaikan dalam bahasa Inggris tentunya. Pelatihan yang diselenggarakan oleh Fair Travel Korea dengan Lombok Hidden Trip didanai oleh Korea Forest Promotion Institute, ini sangat menarik. Dengan kedua tantangan tersebut, mereka semakin menyadari pentingnya berlatih dan terus belajar.

Pada pembukaan kegiatan, Kepala BKSDA NTB, Ir. Ari Subiantoro, MP., menyambut dengan baik kerjasama dengan Korea Forest Service melalui Korea Forest Promotion Institute ini membangun kapasitas masyarakat Desa Mertak ini, mendukung sepenuhnya, dan menyemangati masyarakat untuk terus belajar. Keberhasilan kegiatan ekowisata ditentukan oleh masyarakat nya” demikian tutur beliau. Demonstrasi pemanduan paket wisata dilakukan di kawasan TWA Gunung Tunak, kami panitia bertindak sebagai tamu, dan peserta pelatihan bertindak layaknya tour operator yang sedang menjalani paket wisata.

Tiba di TWA Gunung Tunak kami disambut musik khas tradisional dan tarian Sasak. Sekitar 50 masyarakat mengenakan pakaian adat ‘godek nongkek dan lambung’ berbaris rapi dan menari menyambut kedatangan kami. seorang warga memberikan “Welcome drink” kelapa muda disajikan dengan cara tradisional, kemudian panganan tradisional pun menyambut kedatangan kami, “sumping” demikian makanan itu disebut, terbuat dari labu diparut dan dihaluskan kemudian dibungkus daun pisang dan dikukus, rasanya manis dan legit, para wisatawan menyukainya. Selanjutnya kami diajak membuat dan mencicipi jamu tradisional yang terbuat dari cabe hutan atau sebia gawah dalam bahasa lokal, menjadi segelas minuman yang mereka sebut “songga”. Badan menjadi hangat dan bertenaga terutama bila diminum di musim penghujan.

Pemandu mengajak kami berjalan menyusuri area camping ground menuju jalan trail sembari menjelaskan beberapa potensi tanaman obat yang ada disana. Masing-masing kegiatan diberi review oleh Mr. Sunglee dari Fair Travel Korea, Mr. Eka dari Lombok Hidden Trip, dan Mrs. Afifah dari BKSDA NTB. Para peserta antusias mendengarkan setiap penilaian, saran dan masukan yang diberikan. Setelah istirahat sholat dan makan siang, trip dilanjutkan dengan kelas memasak. Masakan yang diajarkan kali ini adakah membuat “celilong” dan “pumpkin soup”. Kedua masakan berbahan dasar tradisional. Celilong cemilan berbahan dasar singkong, dan sup labu merupakan makanan pencuci mulut terbuat dari labu kuning. Mmm enak sekali kata Ms. Choi dari Fair Travel Korea. Kegiatan selanjutnya adalah kelas menenun dan membuat anyaman daun mali (sejenin palm).

Kesan mendalam didapat dari direktur FTK, karena penyambutan yang meriah, belajar terus bahasa inggris, dan teknik memandu, serta manajemen pembagian kerja di dalam tim. Di akhir acara setelah sesi foto bersama, beliau membisikkan pesan, kelompok ini agar terus didampingi dan jangan menyerah untuk belajar.

Semangat Tunak Besopoq!!!

DOKUMENTASI KEGIATAN

Artikel Terkait

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply