BKSDA NTB Selenggarakan Pelatihan Penyusunan Dokumen Perencanaan dan Laporan Kegiatan Teknis, Oktober 2018

SALAM LESTARI!

Mataram, 9 Oktober 2018 – Guna meningkatkan kapasitas para Pengendali Ekosistem Hutan (PEH), Balai KSDA NTB menyelenggarakan Pelatihan Penyusunan Dokumen Perencanaan dan Laporan Kegiatan Teknis yang mengundang seluruh Pejabat Teknis di UPT Lingkup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di NTB.

Kegiatan berlangsung di Mataram selama dua hari pada tanggal 8 dan 9 Oktober 2018 yang dihadiri oleh kurang lebih 30 peserta yang berasal dari BKSDA NTB selaku Korwil, Balai TN Tambora, Balai TN Gunung Rinjani, BPDAS HL Dodokan Moyosari, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Propinsi NTB, Balai TAHURA Nuraksa dan Balai Penelitian Hasil Hutan Bukan Kayu Mataram.

Acara dibuka oleh Kepala Balai KSDA NTB, Ir. Ari Subiantoro, M.P., beliau berharap melalui pelatihan ini kekayaan hayati dan potensi kawasan konservasi di NTB mampu direncanakan dan dikembangkan dengan lebih baik, terutama ditekankan terhadap masalah perlindungan, pemulihan ekosistem dan kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan konservasi.

Hari pertama Pelatihan, para peserta mendapat materi yang diantaranya Pengelolaan Kawasan Konservasi di NTB oleh Bapak Ir. Ari Subiantoro, M.P. yang dilanjutkan dengan Membangun Kedekatan dengan Masyarakat Sekitar Kawasan Konservasi oleh Bapak Dr. Markum (Dosen Universitas Mataram) yang menggunakan referensi dari kasus Penyelesaian Konflik Masyarakat di TWA Bangko-bangko. Dalam materinya, Bapak Dr. Markum mengatakan bahwa belakangan masalah utama yang dihadapi pengembangan kawasan hutan sebenarnya bukan masalah terkait dengan ekosistem alami hutan itu sendiri, melainkan masalah sosial ekonomi dimana masyarakat menggantungkan keberlangsungan ekonomi hidup mereka dari kawasan hutan, sehingga penting untuk mencarikan solusi “win-win” bagi kedua pihak, masyarakat dan kawasan hutan.

Selanjutnya Bapak Drs. I Gde Mertha, M.Si dalam materi Jenis-jenis tumbuhan Invasif di NTB. Beliau mengatakan “Suatu spesies tumbuhan dikatakan invasif ketika pernyebarannya sangat cepat sekali dan mengganggu pertumbuhan spesies tumbuhan yang lain. Tetapi ada yang menarik, dimana kasus satu jenis tumbuhan termasuk invasif di daerah lain, tetapi di NTB tidak. Tumbuhan tidak akan invasif ketika tumbuhan tersebut memiliki predator alami di habitatnya, sehingga penyebaran tumbuhan tersebut bisa dikendalikan.”

Tak lupa Bapak Abdul Basith, S.Hut., M.Sc. selaku Kepala SPTN I TN Matalawa membagikan pengalaman kesuksesan Restorasi di Kawasan Musson Area di Taman Nasional Matalawa dan Bapak Muhammad Faisyal My, S.P. tentang Pemberdayaan Masyarakat dalam kegiatan Wisata Alam di Taman Nasional Gunung Rinjani.

Diakhir penyampaian materi, Pada sesi diskusi para peserta diberikan kesempatan untuk berbagi cerita dan bertanya terutama mengenai masalah yang dihadapi masing-masing UPT di lingkungan kerja masing-masing kepada para pemateri.

Pada hari kedua, acara ditutup oleh Bapak Lalu Yuhaidir M., P.Si yang memberikan materi tentang motivasi dalam bekerja dan pengembangan diri. Terutama ditekankan pada etos kerja, niat yang ikhlas dalam melakukan pekerjaan serta bagaimana memunculkan niat bekerja dengan tujuan yang lebih tinggi. (Sumber: BKSDA NTB)

DOKUMENTASI KEGIATAN

Artikel Terkait

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply