Kerja kolaborasi untuk mewujudkan Kawasan Ekosistem Esensial Penyu Kota Mataram

SALAM LESTARI!

Mataram, 22 Maret 2021 – Lima dari tujuh penyu di dunia ada di NTB, kita patut berbangga dan menjaganya. Meskipun Balai KSDA NTB menjadi management authority perlindungan satwa dilindungi ini, namun upaya ini menjadi tanggung jawab bersama, sambutan pembuka pelaksana harian kepala KSDA NTB, Lalu Muhammad Fadli, SH.

Pesisir pantai Kota Mataram memiliki panjang kurang lebih 9 km. Menindaklanjuti arahan Gubernur NTB, daerah peneluran penyu dan penetasan semi alaminya harus dijaga. Sebagai salah satu upayanya dengan menetapkan status perlindungan kawasan melalui Kawasan Ekosistem Esensial. Yusran, Kepala DKP provinsi menyampaikan bahwa tantangan abrasi pantai dan permasalahan penggunaan lahan perlu dibahas penyelesaiannya.

Hadir dalam rapat Dinas Pariwisata Provinsi, BAPPEDA Kota dan Provinsi, Dinas LHK Provinsi, DKP Kota dan Provinsi, Biro hukum setda Provinsi, TVRI, akademisi dari Unram dan STP Mataram, WCS NTB, serta kelompok Kerabat Penyu Lombok dari KEE penyu Lombok Barat serta Tim Pokja pengembangan Pantai Mapak.

Kerja kolaborasi untuk mewujudkan aktivitas perlindungan Kawasan bernilai penting merupakan keharusan. Santi dari Tim Pokja 21 memaparkan rencana pengembangan Pantai Mapak. Masukan dan arahan berbagai pihak untuk mengawinkan konservasi dan ekonomi menjadikan diskusi berlangsung hangat.

Konservasi dan kepentingan ekonomi adalah dua hal yang berbeda tetapi bukan tidak mungkin berjalan bersama. Dr. Hilyana mengingatkan jangan sampai konservasi hanya menjadi hiasan aktivitas ekonomi, namun menjadi nyawa dari kegiatan ini. Semua pihak bersepakat untuk segera mengusulkan terbentuknya Kawasan Ekosistem Esensial Penyu Kota Mataram melalui SK Gubernur.

“Tim kecil agar segera merapatkan barisan” ujar Yusran kepala DKP Provinsi menutup acara. (SUMBER: BKSDA NTB)

Artikel Terkait

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply