PELEPASLIARAN TUKIK HASIL PENETASAN DI PANTAI NIPAH, KABUPATEN LOMBOK UTARA

S I A R A N P E R S
PELEPASLIARAN TUKIK HASIL PENETASAN DI PANTAI NIPAH, KABUPATEN LOMBOK UTARA
Nomor : SP.265/K.14/TU/KSA.2/5/2021

Lombok Utara, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Barat, Jumat 28 Mei 2021.

Balai Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Barat (BKSDA NTB) beserta Pemerintah Provinsi NTB (Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan) serta Pemerintah Desa Malaka melakukan pelepasliaran tukik hasil penetasan di Pantai Nipah Desa Malaka, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Peserta pelepasan tukik terdiri dari beberapa unsur yaitu BKSDA NTB, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTB, Pemerintah Desa Malaka, Kepolisian Daerah NTB (diwakili oleh Babinkamtibmas setempat), PLN (diwakili oleh PLTU Jeranjang Lombok Barat), Geopark Rinjani Lombok, masyarakat pegiat konservasi penyu (Turtle Conservation Community) Nipah serta para peserta workshop Pengembangan Paket Wisata Edukasi Berbasis Geowisata yang sedang berlangsung di Lombok Utara.

Tukik (anak penyu) yang dilepaskan merupakan jenis penyu sisik (Eretmochelys imbricata) sebanyak 50 ekor hasil penetasan semi alami kelompok masyarakat TCC (Turtle Conservation Community). TCC merupakan kelompok pegiat konservasi penyu binaan BKSDA NTB yang berlokasi di Desa Malaka, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, sekitar 1 jam perjalanan dari Mataram ke arah utara. Adapun unit penetasan semi alami yang dibangun oleh kelompok masyarakat tersebut berada di Pantai Nipah di desa yang sama. Telur-telur penyu yang ditetaskan berasal dari penyu yang mendarat dan bertelur di sepanjang Pantai Nipah dan sekitarnya. Sebagai habitat penting dari satwa dilindungi penyu, maka kawasan ini kemudian diinisiasi oleh BKSDA NTB menjadi kawasan ekosistem esensial. Setelah melalui serangkaian proses saat ini kawasan pantai Lombok Utara telah ditetapkan sebagai kawasan ekosistem esensial melalui Keputusan Bupati Lombok Utara nomor 372/52/DLH-PKP/2019 tanggal 2 Oktober 2019.

Secara umum pesisir Pulau Lombok merupakan lokasi peneluran penyu. Dari 6 jenis penyu yang ditemukan di Indonesia, 3 jenis di antaranya dapat dijumpai di perairan Pulau Lombok, yaitu penyu sisik (Eretmochelys imbricate), penyu lekang (Lepidochelis olivaceae) dan penyu hijau (Chelonia mydas). Seluruh jenis penyu tersebut merupakan jenis satwa dilindungi undang-undang di Indonesia. Dalam Red List IUCN (International Union for Conservation Nation), penyu sisik berstatus Critically Endangered/kritis, status konservasi yang hanya satu tingkat di bawah Extinct in the wild /punah di alam. Artinya jenis penyu sisik sudah sangat langka di dunia dan sangat terancam punah. Adapun penyu hijau berstatus Endangered/genting atau terancam punah, sedangkan penyu lekang berstatus Vurnerable/ rentan.

Di Lombok, ancaman terhadap kelestarian penyu yang paling utama adalah pengambilan telur penyu oleh masyarakat untuk konsumsi. BKSDA NTB sendiri telah berupaya untuk mengeliminir pengambilan telur penyu tersebut dengan penyuluhan langsung ke masyarakat dan mendorong masyarakat untuk ikut melestarikan penyu dengan membentuk kelompok masyarakat pelestari penyu. Saat ini telah terbentuk 2 kelompok masyarakat pelestari penyu yaitu kelompok masyarakat Kerabat Penyu Lombok di Desa Kuranji, Kecamatan Labu Api, Kabupaten Lombok Barat dan kelompok masyarakat Turtle Conservation Community (TCC) di Desa Malaka Kecamatan Pemenang Kabupaten Lombok Utara. Kedua kelompok tersebut telah terbentuk pada tahun 2017 dan 2018. Mereka melestarikan penyu dengan mengumpulkan telur penyu di pantai untuk kemudian ditetaskan secara semi alami di pantai serta memberikan edukasi kepada masyarakat tentang kelestarian penyu.

Dengan pembentukan dan pendampingan kelompok masyarakat pelestari penyu tersebut diharapkan mereka bisa menjadi agen konservasi penyu bagi masyarakat lainnya, sehingga pendidikan konservasi penyu kepada masyarakat dan pelestarian penyu dapat terwujud.

Penanggungjawab berita:
Plt. Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Barat,
Dedy Asriady, S.Si.,M.P.

Informasi lebih lanjut :
Call Centre BKSDA NTB,
0878-8203-0720

Artikel Terkait

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply