Pembinaan dan Diskusi dengan Kelompok Pelestari Penyu “Kerabat Penyu Lombok” Desa Kuranji, Lombok Barat

SALAM LESTARI!

Kuranji, Rabu 12 September 2018. BKSDA NTB bersama dengan Kerabat Penyu Lombok, masyarakat setempat, dan wisatawan melepasliarkan sejumlah tukik jenis Penyu Hijau (Chelonia mydas) di Pantai Kuranji, Lombok Barat. Kerabat Penyu Lombok merupakan komunitas binaan BKSDA NTB yang terdiri dari masyarakat setempat yang secara sukarela bersedia berkontribusi dalam usaha konservasi penyu di Kuranji sebagai salah satu Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) Penyu di NTB.

Kegiatan pelepasliaran tukik dilanjutkan dengan acara diskusi bersama terkait aktivitas konservasi penyu di Kuranji. Kepala Sub Bagian Tata Usaha BKSDA NTB, Lugi Hartanto mengapresiasi komitmen Komunitas Kerabat Penyu Lombok yang terus dipertahankan dalam kegiatan pelestarian penyu. Beliau menyebutkan bahwa organisasi ini merupakan sentra konservasi penyu di luar kawasan konservasi. Aktivitas ini sungguh mulia karena telah berkontribusi pada lingkungan dan juga Negara. “Kalau dulu kita masih sangat sering menemukan telur penyu beredar di pasar, sekarang sudah mulai jarang” tambahnya. Fakta ini menunjukkan bahwa keberadaan komunitas ini juga mampu mengedukasi masyarakat sekitar terkait satwa dilindungi, khususnya penyu.

Sementara itu, komunitas ini merupakan komunitas masyarakat yang non-profit. Hal ini menjadi salah satu keluhan dari anggota komunitas dan masyarakat setempat yang memang berada di kelas ekonomi menengah ke bawah. Kegiatan yang dilakukan oleh komunitas ini jelas tidak dapat dijadikan sebagai sumber mata pencaharian.

Penyu merupakan satwa dilindungi dan diatur dalam perundangan dan peraturan pemerintah yaitu UU No.5/1990 dan PP No.7/1999. Oleh karenanya, segala bentuk perdagangan dari setiap bagian dari Penyu, termasuk telurnya tidak diperkenankan. Sebagai solusi, BKSDA NTB telah mengupayakan sistem insentif terhadap kegiatan patroli yang dilakukan oleh komunitas, sebagai bentuk apresiasi dalam usaha pelestarian penyu di luar kawasan konservasi. “Yang jelas, BKSDA NTB tidak memaksakan harus menemukan telur berapa banyak setiap patroli, karena apresiasinya bukan pada jumlah telurnya melainkan terhadap jerih payah pelestarian penyu yang komunitas lakukan”, terang Lugi.

Kegiatan pelepasliaran penyu ini ditutup dengan menyerahkan rompi dan senter kepada komunitas, yang diserahkan langsung oleh Kepala Sub Bagian Tata Usaha BKSDA NTB, Lugi Hartanto.

DOKUMENTASI KEGIATAN

 

Artikel Terkait

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply